Hot Post

Sabtu, 24 Mei 2014

Gaya Belajar



BAB I
PENDAHULUAN  
    A.    Latar Belakang
Belajar adalah suatu aktivitas yang disengaja dilakukan oleh individu agar terjadi perubahan kemampuan diri, dengan belajar anak yang tadinya tidak mampu melakukan sesuatu, menjadi mampu melakukan sesuatu itu, atau anak yang tadinya tidak terampil menjadi terampil (Siddiq, dkk. 2008:1-3). Sedangkan menurut Dimyati dan Mudjiono (2002:7) Belajar merupakan tindakan perilaku siswa yang kompleks. Sebagai tindakan, maka belajar hanya dialami oleh siswa sendiri. Siswa adalah penentu terjadinya proses belajar. Dari pernyataan di atas dapat diketahui bahwa belajar itu membutuhkan waktu karena beloajar merupakan suatu proses yang terjadi pada manusia.
Perubahan tingkah laku dalam bentuk internasional bermakna bahwa proses belajar merupakan pengalaman atau praktek yang secara sengaja dan disadari, maka dari itu belajar membutuhkan motivasi agar seseorang itu berfikir bahwa belajar merupakan suatu hal yang penting untuk dirinya. Seseorang sendiri dapat menyadari bahwa ada perubahan dalam dirinya misalnya, penambahan pengetahuan, kebiasaan dan keterampilan yang di dapatnya dari proses belajar.
Perubahan yang dimaksudkan disini adalah perubahan aktif dan positif. Maksud dari perubahan aktif dan positif adalah bahwa perubahan tersebut baik dan bermanfaat bagi kehidupan yang sesuai dengan harapan karena mendapatkan sesuatu yang sifatnya baru dan tentu lebih baik dari sebelum dia belajar. Sedangkan perubahan sifat aktif merujuk kepada perubahan yang terjadi karena adanya upaya dari siswa itu sendiri.
Untuk mendapatkan hasil yang sesuai harapan maka harus mengetahui bagaimana gaya belajar yang tepat agar dalam proses pembelajaran dapat berjalan lancar dan tidak terjadi problem dalam menerima ilmu pengetahuan dalam proses belajar.
B.     Rumusan Masalah
Dalam penulisan makalah ini penulis akan meruskan beberapa masalah terkait dengan gaya belajar diantaranya :
1.    apa definisi gaya pembelajaran ?
2.    apasaja macam-macam gaya belajar yang dsering di gunakan ?
3.    bagaimana peranan pendidik dalam pembelajaran ?



BAB II
PEMBAHASAN
      A.    Pengertian Gaya Belajar
Gaya pembelajaran diartikan sebagai prosedur sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar. Dapat juga diartikan suatu pendekatan yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran.
Jadi, sebenarnya model pembelajaran memiliki arti yang sama dengan pendekatan, strategi atau metode pembelajaran. Saat ini telah banyak dikembangkan berbagai macam model pembelajaran, dari yang sederhana sampai model yang agak kompleks dan rumit karena memerlukan banyak alat bantu dalam penerapannya.
Apabila antara pendekatan, strategi, metode, teknik dan bahkan taktik pembelajaran sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah apa yang disebut dengan model pembelajaran. Jadi, model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.

B.     Faktor Yang Mempengaruhi Gaya Belajar
Hasil belajar yang dicapai oleh siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu :
a.       Faktor Internal
Slameto (2010:56) Faktor dari dalam diri siswa yaitu kemampuan yang dimiliki oleh siswa tersebut. Faktor kemampuan memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap hasil belaajr siswa. Selain faktor kemampuan yang dimiliki siswa, terdapat juga faktor-faktor lain, seperti:
1)      Perhatian
Perhatian adalah keaktifan yang tertuju pada objek. Untuk mendapatkan hasil yang baik, maka diperlukan perhatian siswa terhadap pelajaran. Jika siswa tidak tertarik terhadap pelajaran, maka tumbuhlah rasa bosan sehingga siswa tidak memperhatikan pelajaran. Agar siswa dapat memperhatikan pelajaran dengan baik, maka diperlukan cara penyajian pelajaran yang baik sesuai hobi dan bakat siswa.
2)      Minat
Minat adalah kecendrungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Minat memiliki pengaruh yang besar terhadap hasil belajar, apabila pelajaran tersebut diminati oleh siswa, maka siswa akan belajar dengan baik. Begitu juga sebaliknya apabila pelajaran ini tidak diminati oleh siswa. Apabila hal ini terjadi maka seharusnya pelajaran dihubungkan dengan hal sehari-hari yang menarik minat siswa.
3)      Bakat
Bakat adalah kemampuan dalam belajar yang dapat dilihat setelah belajar dan berlatih. Setiap siswa memiliki bakat yang berbeda-beda.
4)      Motifasi
Motifasi merupakan pendorong atau penggerak dalam mencapai suatu tujuan. Dalam proses belajar perlu diperhatikan apa saja yang dapat mendorong siswa agar dapat belajar dengan baik atau mempunyai motif untuk berpikir dan memusatkan perhatian, merencanakan dan melaksanakan kegiatan yang dapat menunjang hasil belajar siswa.
5)      Kematangan
Kematangan adalah suatu tingkat/fase dalam pertumbuhan seseorang, di mana alat-alat tubuhnya sudah siap untuk melaksanakan kecakapan baru. Belaajr akan lebih berhasil jika anak sudah siap. Jadi kemajuan baru untuk memiliki kecakapan itu tergantung dari kematangan dan belajar.
6)      Kesiapan
Kesiapan adalah kesedian untuk untuk memberi respons atau bereaksi. Kesedian itu timbul dari dalam diri seseorang dan juga berhubungan dengan kematangan, karena kematanagn berarti kesiapan untuk melaksanakan kecakapan. Kesiapan perlu diperhatikan dalam proses belajar, karena jika siswa belajar dan sudah ada kesiapan, maka hasil belajarnya akan lebih baik.
b.      Faktor Eksternal
Faktor dari luar yang lebih dominan mempengaruhi hasil belajar adalah metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, pelajaran dan waktu sekolah, standar pelajaran, keadaan gedung, metode belajar dan tugas rumah.

C.    Klasifikasi Gaya Belajar
Sejak awal tahun 1997, telah banyak upaya yang dilakukan untuk mengenali dan mengkategorikan cara manusia belajar, cara memasukkan informasi ke dalam otak. Secara garis besar, ada 7 pendekatan umum dikenal dengan kerangka referensi yang berbeda dan dikembangkan juga oleh ahli yang berbeda dengan variansinya masing-masing. Adi Gunawan adalah seorang pakar mind technology dan transformasi diri yang dalam bukunya “Born to be a Genius” merangkum ketujuh cara belajar tersebut, yaitu:
1)      Pendekatan berdasarkan pada pemprosesan informasi; menentukan cara yang berbeda dalam memandang dan memproses informasi yang baru. Pendekatan ini dikembangkan oleh Kagan, Kolb, Honey dan Umford Gregorc, Butler, dan McCharty.
2)      Pendekatan berdasarkan kepribadian; menentukan tipe karakter yang berbeda-beda. Pendekatan ini dikembangkan oleh Myer-Briggs, Lawrence, Keirsey & Bartes, Simon & Byram, Singer-Loomis, Grey-Whellright, Holland,dan Geering.
3)      Pendekatan berdasarkan pada modalitas sensori; menentukan tingkat ketergantungan terhadap indera tertentu. Pendekatan ini dikembangkan oleh Bandler & Grinder, dan Messick.
4)      Pendekatan berdasarkan pada lingkungan; menentukan respon yang berbeda terhadap kondisi fisik, psikologis, sosial, dan instruksional. Pendekatan ini dikembangkan oleh Witkin dan Eison Canfield.
5)      Pendekatan berdasarkan pada interaksi sosial; menentukan cara yang berbeda dalam berhubungan dengan orang lain. Pendekatan ini dikembangkan oleh Grasha-Reichman, Perry, Mann, Furmann-Jacobs, dan Merill.
6)      Pendekatan berdasarkan pada kecerdasan; menentukan bakat yang berbeda. Pendekatan ini dikembangkan oleh Gardner dan Handy.
7)      Pendekatan berdasarkan wilayah otak; menentukan dominasi relatif dari berbagai bagian otak, misalnya otak kiri dan otak kanan. Pendekatan ini dikembangkan oleh Sperry, Bogen, Edwards, dan Herman (Adi W. Gunawan:2004:140).
Banyaknya pendekatan dalam mengklasifikasikan atau membedakan gaya belajar disebabkan karena setiap pendekatan yang digunakan mengakses aspek yang berbeda secara kognitif. Dari berbagai pendekatan tersebut yang paling terkenal dan sering digunakan saat ini ada 3, yaitu pendekatan berdasarkan preferensi kognitif, profil kecerdasan, dan preferensi sensori.
Pendekatan gaya belajar berdasarkan preferensi kognitif dikembangkan oleh Dr. Anthony Gregorc. Gregorc mengklasifikasikan gaya belajar menurut kemampuan mental menjadi 4 kategori, yaitu: gaya belajar konkret-sekuensial, gaya belajar abstrak-sekuensial, gaya belajar konkret acak, dan gaya belajar abstrak acak.
Pendekatan gaya belajar berdasarkan profil kecerdasan dikembangkan oleh Howard Gardner. Menurut Gardner, manusia mempunyai 7 kecerdasan yaitu: linguistik, logika/matematika, interpersonal, intrapersonal, musik, spasial, dan kinestetik. Teori kecerdasan ganda ini mewakili definisi sifat manusia, dari perspektif kognitif, yaitu bagaimana kita melihat, bagaimana kita menyadari hal.
Ini benar-benar memberikan indikasi yang sangat penting dan tidak dapat dihindari untuk orang-orang preferensi gaya belajar, serta perilaku mereka dan bekerja gaya, dan kekuatan alami mereka. Jenis-jenis kecerdasan yang dimiliki seseorang (Gardner menunjukkan sebagian besar dari kita kuat dalam tiga jenis) tidak hanya menunjukkan kemampuan orang, tetapi juga cara atau metode di mana mereka lebih suka belajar dan mengembangkan kekuatan mereka dan juga untuk mengembangkan kelemahan-kelemahan mereka.
Penjelasan dan pemahaman Tujuh Kecerdasan Gardner dapat lebih diterangi dan diilustrasikan dengan melihat klasik kecerdasan lain dan model gaya belajar, dikenal sebagai model gaya belajar Visual-Auditory-Kinestetik, biasanya disingkat VAK. Konsep, teori dan metode pertama kali dikembangkan oleh psikolog dan spesialis mengajar seperti Fernald, Keller, Orton, Gillingham, Stillman dan Montessori, dimulai pada tahun 1920-an. Para VAK pendekatan multi-indera (preferensi sensori) untuk belajar dan mengajar ini awalnya berkaitan dengan pengajaran anak-anak menderita disleksia dan pelajar lain untuk metode pengajaran konvensional yang tidak efektif. Spesialis VAK awal diakui bahwa orang belajar dalam berbagai cara: sebagai contoh yang sangat sederhana, seorang anak yang tidak bisa dengan mudah mempelajari kata-kata dan huruf dengan membaca (visual) mungkin misalnya belajar lebih mudah dengan menelusuri bentuk huruf dengan jari mereka (kinestetik). Model gaya belajar Visual-Auditory-Kinestetik tidak menutup kecerdasan ganda Gardner, melainkan dengan model VAK memberikan perspektif yang berbeda untuk memahami dan menjelaskan pilihan seseorang atau dominan berpikir dan gaya belajar, dan kekuatan. Teori Gardner adalah salah satu cara melihat gaya berpikir; VAK adalah hal lain.
Dari tiga pendekatan tersebut yang dikenal luas di Indonesia adalah pendekatan berdasarkan preferensi sensori (Adi W. Gunawan:2004:142). Oleh karena ketenaran dan penggunaannya yang luas maka penelitian ini hanya menitikberatkan pada pengklasifikasian gaya belajar menurut pendekatan preferensi sensori, pendekatan multiple intelliggenses, dan pendekatan berdasarkan wilayah otak. Pendekatan prefensi sensori yaitu meliputi gaya belajar visual, gaya belajar auditorial, dan gaya belajar kinestetik.
1.        Gaya Belajar Visual (Visual learners)
Belajar melalui melihat sesuatu. Kita suka melihat gambar atau diagram. Kita suka pertunjukkan, peragaan atau menyaksikan video. Gaya belajar yang menitikberatkan pada ketajaman penglihatan. Artinya, bukti-bukti konkret harus diperlihatkan terlebih dahulu agar mereka paham Gaya belajar seperti ini mengandalkan penglihatan atau melihat dulu buktinya untuk kemudian bisa mempercayainya.
Ada beberapa karakteristik yang khas bagai orang-orang yang menyukai gaya belajar visual ini. Pertama adalah kebutuhan melihat sesuatu (informasi/pelajaran) secara visual untuk mengetahuinya atau memahaminya, kedua memiliki kepekaan yang kuat terhadap warna, ketiga memiliki pemahaman yang cukup terhadap masalah artistik, keempat memiliki kesulitan dalam berdialog secara langsung, kelima terlalu reaktif terhadap suara, keenam sulit mengikuti anjuran secara lisan, ketujuh seringkali salah menginterpretasikan kata atau ucapan.
Individu yang memiliki kemampuan belajar visual yang baik ditandai dengan ciri-ciri perilaku sebagai berikut:
a.       rapi dan teratur,
b.       berbicara dengan cepat,
c.       mampu membuat rencana dan mengatur jangka panjang dengan baik,
d.      teliti dan rinci,
e.       mementingkan penampilan,
f.       lebih mudah mengingat apa yang dilihat daripada apa yang didengar,
g.      mengingat sesuatu berdasarkan asosiasi visual,
h.      memiliki kemampuan mengeja huruf dengan sangat baik,
i.        biasanya tidak mudah terganggu oleh keributan atau suara berisik ketika sedang belajar,
j.        sulit menerima instruksi verbal (oleh karena itu seringkali ia minta instruksi secara tertulis),
k.      merupakan pembaca yang cepat dan tekun,
l.         lebih suka membaca daripada dibacakan,
m.     dalam memberikan respon terhadap segala sesuatu, ia selalu bersikap waspada, membutuhkan penjelasan menyeluruh tentang tujuan dan berbagai hal lain yang berkaitan,
n.      jika sedang berbicara di telpon ia suka membuat coretancoretan tanpa arti selama berbicara,
o.       lupa menyampaikan pesan verbal kepada orang lain,
p.      sering menjawab pertanyaan dengan jawaban singkat "ya" atau "tidak”,
q.      lebih suka mendemonstrasikan sesuatu daripada berpidato/ berceramah,
r.        lebih tertarik pada bidang seni (lukis, pahat, gambar) dari pada musik,
s.       sering kali menegtahui apa yang harus dikatakan, tetapi tidak pandai menuliskan dalam kata-kata,
t.        kadang-kadang kehilangan konsentrasi ketika mereka ingin memperhatikan.

2.        Gaya Belajar Auditorial (Auditory Learners)
Belajar melalui mendengar sesuatu. Kita suka mendengarkan kaset audio, ceramah-kuliah, diskusi, debat dan instruksi (perintah) verbal. Gaya belajar yang mengandalkan pada pendengaran untuk bisa memahami dan mengingatnya. Karakteristik model belajar seperti ini benar-benar menempatkan pendengaran sebagai alat utama menyerap informasi atau pengetahuan. Artinya, kita harus mendengar, baru kemudian kita bisa mengingat dan memahami informasi itu. Karakter pertama orang yang memiliki gaya belajar ini adalah semua informasi hanya bisa diserap melalui pendengaran, kedua memiliki kesulitan untuk menyerap informasi dalam bentuk tulisan secara langsung, ketiga memiliki kesulitan menulis ataupun membaca.
Individu yang memiliki kemampuan belajar auditorial yang baik ditandai dengan ciri-ciri perilaku sebagai berikut:
a.    sering berbicara sendiri ketika sedang bekerja (belajar),
b.    mudah terganggu oleh keributan atau suara berisik,
c.    menggerakan bibir dan mengucapkan tulisan di buku ketika membaca,
d.   lebih senang mendengarkan (dibacakan) daripada membaca,
e.     jika membaca maka lebih senang membaca dengan suara keras,
f.     dapat mengulangi atau menirukan nada, irama dan warna suara,
g.    mengalami kesulitan untuk menuliskan sesuatu, tetapi sangat pandai dalam bercerita,
h.     berbicara dalam irama yang terpola dengan baik,
i.      berbicara dengan sangat fasih,
j.       lebih menyukai seni musik dibandingkan seni yang lainnya,
k.    belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan daripada apa yang dilihat,
l.      senang berbicara, berdiskusi dan menjelaskan sesuatu secara panjang lebar,
m.  mengalami kesulitan jika harus dihadapkan pada tugas-tugas yang berhubungan dengan visualisasi,
n.    lebih pandai mengeja atau mengucapkan kata-kata dengan keras daripada menuliskannya,
o.    lebih suka humor atau gurauan lisan daripada membaca buku humor/komik

3.        Gaya Belajar Kinestetik (Tactual Learners)
Belajar melalui aktivitas fisik dan keterlibatan langsung. Kita suka ”menangani”, bergerak, menyentuh dan merasakan/mengalami sendiri. Gaya belajar yang mengharuskan individu yang bersangkutan menyentuh sesuatu yang memberikan informasi tertentu agar ia bisa mengingatnya. Tentu saja ada beberapa karakteristik model belajar seperti ini yang tak semua orang bisa melakukannya. Karakter pertama adalah menempatkan tangan sebagai alat penerima informasi utama agar bisa terus mengingatnya. Hanya dengan memegangnya saja, seseorang yang memiliki gaya  ini bisa menyerap informasi tanpa harus membaca penjelasannya.
Individu yang memiliki kemampuan belajar kinestetik yang baik ditandai dengan ciri-ciri perilaku sebagai berikut:
a.         berbicara dengan perlahan,
b.        menanggapi perhatian fisik,
c.         menyentuh orang lain untuk mendapatkan perhatian mereka,
d.        berdiri dekat ketika sedang berbicara dengan orang lain,
e.         banyak gerak fisik,
f.         memiliki perkembangan awal otot-otot yang besar,
g.        belajar melalui praktek langsung atau manipulasi,
h.        menghafalkan sesuatu dengan cara berjalan atau melihat langsung,
i.          menggunakan jari untuk menunjuk kata yang dibaca ketika sedang membaca,
j.          banyak menggunakan bahasa tubuh (non verbal),
k.        tidak dapat duduk diam di suatu tempat untuk waktu yang lama,
l.          sulit membaca peta kecuali ia memang pernah ke tempat tersebut,
m.      menggunakan kata-kata yang mengandung aksi,
n.        pada umumnya tulisannya jelek,
o.        menyukai kegiatan atau permainan yang menyibukkan (secara fisik),
p.        ingin melakukan segala sesuatu (DePorter, Bobbi & Hernacki, Mike:2000:110-112)
Setelah berbicara pendekatan prefensi sensori selanjutnya yaitu pendekatan multiple intellegenses. Menurut Gardner, Intelegensi (kecerdasan) diartikan sebagai kemampuan untuk memecahkan persoalan dan menghasilkan produk dalam suatu setting yang beragam dan dalam situasi yang nyata (1983, 1993). Gardner mendefinisikan paling tidak ada tujuh kecerdasan berbeda yang semuanya bekerja sama dalam otak secara terpadu meskipun masing- masing bisa diidentifikasi dan mampu mengalami peningkatan, (Gardner 1999). Tujuh kecerdasan asli yang dijelaskan oleh Gerdner adalah sebagai berikut :
a.Kecerdasan Linguistik
Kecerdasan linguistik adalah kecerdasan dalam mengolah kata. Ini merupakan kecerdasan para jurnalis, juru cerita, penyair, dan pengacara. Orang yang cerdas dalam bidang ini dapat beragumentasi, menyakinkan orang, menghibur, atau mengajar dengan efektif  lewat kata-kata yang diucapkannya.
     b.Kecerdasan Logis-Matematis
Kecerdasan logis-matematis adalah kecerdasan dalam hal angka dan logika. Ini merupakan kecerdasan para ilmuwan, akuntan, dan pemogram komputer. Ciri-ciri orang yang cerdas secara logis-matematis mencakup kemampuan penalaran, mengurutkan, berpikir dalam tentang sebab akibat, menciptakan hipotesis, mencari keteraturan konseptual atau pola numerik, dan pandangan hidupnya umumnya bersifat rasional.
c.       Kecerdasan Spasial
Kecerdasan spasial mencakup berpikir dalam gambar, serta kemampuan untuk mencerap, mengubah, dan menciptakan kembali berbagai macam aspek dunia visual-spasial. Kecerdasan ini merupakan kecerdasan para arsitek, fotografer, artis, pilot, dan insinyur mesin. Orang dengan tingkat kecerdasan spasial yang tinggi hamper selalu mempunyai kepekaan yang tajam terhadap detail visual dan dapat menggambarkan sesuatu dengan begitu hidup, melukis atau membuat sketsa ide secara jelas, serta dengan mudah menyesuaikan orientasi dalam tiga dimensi.
d.      Kecerdasan Musikal
Ciri utama kecerdasan ini adalah kemampuan untuk mencerap, menghargai, dan menciptakan irama dan melodi. Kecerdasan musikal juga dimiliki orang yang peka nada, dapat menyanyikan lagu dengan tepat, dapat mengikuti irama musik, dapat mendengarkan berbagai karya musik dengan tingkat ketajaman tertentu.
e.       Kecerdasan Naturalis
Kecerdasan naturalis adalah kemampuan dan kepekaan terhadap alam sekitar. Kemampuan yang tinggi untuk membedakan berbagai jenis tumbuhan secara mendalam. Kemampuan untuk menghubungkan materi pelajaran dengan fenomena alam. Seseorang yang  memiliki kecerdasan naturalis ini sangat menyukai binatang ataupun tanaman. Pembicaraan dengannya akan makin menarik dan kreatif jika dimulai dengan mengangkat tema tentang binatang dan alam. Bahkan membawa binatang atau tanaman tertentu di dalam proses pembelajaran adalah hal yang disukainya. Kecerdasan ini banyak dimiliki para oleh para pakar lingkungan. Seorang yang tinggal di pedalaman mampu membedakan daun-dauan yang dapat dimakan, daun yang digunakan sebagai tanaman obat atau  tanaman yang mengandung racun.
f.       Kecerdasan Kinestetik-Jasmani
Adalah kecerdasan fisik, kecerdasan ini mencakup bakat dalam mengendalikan gerak tubuh dan keterampilan dalam menangani benda. Atlet, pengrajin, montir, dan ahli bedah mempunyai kecerdasan kinestetik-jasmani tingkat tinggi. Orang   dengan kecerdasan fisik memiliki keterampilan dalm menjahit, bertukang, atau merakit model. Mereka juga menikmati kegiatan fisik, seperti berjalan kaki, menari, berlari, berkemah, berenang, atau berperahu. Mereka adalah orang-orang yang cekatan, indra perabanya sangat peka, tidak bisa tinggal diam, dan berminat   atas segala sesuatu.
g.      Kecerdasan Antarpribadi
Ini adalah kemampuan untuk memahami dan bekerja sama dengan orang    lain. Kecerdasan ini terutama menuntut untuk mencerap dan tanggap terhadap suasan hati, perangai, niat, dan hasrat orang lain. Pada tingkat yang lebih tinggi, kecerdasan ini dapat membaca konteks kehidupan orang lain, kecendrungannya dan kemungkinan keputusan yang akan diambil. Profesional, guru,  teraphis, politisi umunya memiliki kecerdasan ini.
h.      Kecerdasan Intrapribadi (Dalam diri sendiri )
Orang yang kecerdasan intrapribadinya sangat baik dapat dengan mudah mengakses perasaannya sendiri, membedakan berbagai macam keadaan emosi, dan menggunakan pemahamannya sendiri untuk memperkaya dan membimbing        hidupnya. Contoh orang yang mempunyai kecerdasan ini, yaitu konselor, ahli teologi, dan wirausahawan. Mereka sangat mawas diri dan suka bermeditasi,           berkontemplasi, atau bentuk lain penelusuran jiwa yang mendalam. Sebaliknya mereka sangat mandiri, sangat terfokus pada tujuan, dan sangat disiplin. Secara garis besar, mereka merupakan orang yang gemar belajar sendiri dan lebih suka bekerja sendiri dari pada bekerja dengan orang lain.
i . Kecerdasan Eksistensialis
Kecerdasan eksistensialis adalah kecerdasan yang cenderung memandang masalah-masalah dari sudut pandang yang lebih luas dan menyeluruh serta menanyakan ”untuk apa” dan ”apa dasar” dari segala sesuatu. Kecerdasan ini banyak dijumpai pada para filusuf. Mereka mampu menyadari dan menghayati dengan benar keberadaan dirinya di dunia ini  dan apa tujuan hidupnya.
Lalu, apa bukti teoritis keunggulan dari teori kecerdasan majemuk ini? Para ahli pendidikan dan psikologi mengemukakan bahwa yang membuat teori Gardner unggul adalah adanya dukungan riset dari berbagai bidang termasuk antropologi, psikologi kognitif, psikologi perkembangan, psikometri, studi biografi, fisiologi, hewan, dan neuroanatomi. Gardner menetapkan syarat khusus yang harus dipenuhi oleh setiap kecerdasan agar dapat dimasukkan ke dalam teorinya.
Pendekatan berdasarkan wilayah otak mengandung pengertian bahwa gaya belajar dipengaruhi oleh fungsi dasar yang berbeda dari belahan otak kanan dan otak kiri tersebut. Ber5ikut fungsi dasar otak kanan dan otak kiri :
Fungsi Otak Kanan
Otak kanan adalah otak yang berada disebelah kanan dalam posisi anatomis (frontal). Fungsi otak kanan adalah sebagai berikut:
  • Perkembangan emosi (emotional quotient (EQ))
  • Hubungan antar manusia (sosialisasi)
  • Fungsi Komunikasi (perkembangan bahasa non verbal)
  • Perkembangan intuitif
  • Seni (menari, melukis, menyanyi dan lain-lain)
  • Mengandalikan ekspresi manusia
  • Pusat khayalan dan kreativitas
  • Berpikir lateral dan tidak terstruktur
  • Tidak memikirkan hal-hal secara detail
  • Cara kerjanya long term memory (memory jangka panjang)
  • Lebih ahli dalam menentukan ruang/tempat dan warna
  • Bila terjadi kerusakan pada area otak kanan yang terganggu adalah area kemampuan visual dan emosi
Fungsi Otak Kiri
Otak kiri adalah otak yang berada disebelah kiri dalam posisi anatomis (posisi frontal). Fungsi otak kiri adalah sebagai berikut:
  • Perkembangan Intelegensi (intelligence quotient (IQ))
  • Pusat perkembangan logika dan rasio (seperti matematika)
  • Berpikir sacara sistematis
  • Bahasa verbal
  • Berpikir linear dan terstruktur
  • Berpikir analisis dan bertahap
  • Cara berpikirnya short term memory (memory jangka pendek)
  • Jika terjadi gangguan pada otak kiri, maka yang terganggu adalah fungsi berbicara, bahasa dan matematika
Walaupun demikian, mereka yang mampu mengintegrasikan penggunaan kedua belah otak jelas dalam keadaan yang lebih baik karena mereka mampu memanfaatkan fleksibilitas untuk menyesuaikan diri dalam situasi apapun yang memerlukan kemampuan berfikir.

DAFTAR PUSTAKA
De Porter, Bobbi. 2003. Quantum Earleaning Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan. Bandung. Kaifa.
Dimyati dan Moedjiono. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Maulida, Dina. 2008. Pengaruh Gaya Belajar (Visual, Auditorial,& Kinestetik)Terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas I Penjualan SMK Muhammadiyah 2 Malang Pada Mata Pelajaran Kewirausahaan Tahun Ajaran 2007/2008.
Siddiq, M. D., Munawaroh, I. dan Sungkono. 2008. Pengembangan Bahan Pembelajaran SD. Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional
Sudjana, D. Strategi Pembelajaran. Falah Production : Bandung,2000
Udin S. Winataputra. 2003. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Pusat Penerbitan
Universitas Terbuka.
http://bathosaihadi.blogspot.com/ ( diakses, 30 juni 2013 : 13.00 WIB )
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Item Reviewed: Gaya Belajar 9 out of 10 based on 10 ratings. 9 user reviews.
Scroll to Top