BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Belajar adalah suatu
aktivitas yang disengaja dilakukan oleh individu agar terjadi perubahan
kemampuan diri, dengan belajar anak yang tadinya tidak mampu melakukan sesuatu,
menjadi mampu melakukan sesuatu itu, atau anak yang tadinya tidak terampil
menjadi terampil (Siddiq, dkk. 2008:1-3). Sedangkan menurut Dimyati dan
Mudjiono (2002:7) Belajar merupakan tindakan perilaku siswa yang kompleks.
Sebagai tindakan, maka belajar hanya dialami oleh siswa sendiri. Siswa adalah penentu
terjadinya proses belajar. Dari pernyataan di atas dapat diketahui bahwa
belajar itu membutuhkan waktu karena beloajar merupakan suatu proses yang
terjadi pada manusia.
Perubahan tingkah laku
dalam bentuk internasional bermakna bahwa proses belajar merupakan pengalaman
atau praktek yang secara sengaja dan disadari, maka dari itu belajar
membutuhkan motivasi agar seseorang itu berfikir bahwa belajar merupakan suatu
hal yang penting untuk dirinya. Seseorang sendiri dapat menyadari bahwa ada
perubahan dalam dirinya misalnya, penambahan pengetahuan, kebiasaan dan
keterampilan yang di dapatnya dari proses belajar.
Perubahan yang
dimaksudkan disini adalah perubahan aktif dan positif. Maksud dari perubahan
aktif dan positif adalah bahwa perubahan tersebut baik dan bermanfaat bagi
kehidupan yang sesuai dengan harapan karena mendapatkan sesuatu yang sifatnya
baru dan tentu lebih baik dari sebelum dia belajar. Sedangkan perubahan sifat
aktif merujuk kepada perubahan yang terjadi karena adanya upaya dari siswa itu
sendiri.
Untuk mendapatkan hasil
yang sesuai harapan maka harus mengetahui bagaimana gaya belajar yang tepat
agar dalam proses pembelajaran dapat berjalan lancar dan tidak terjadi problem
dalam menerima ilmu pengetahuan dalam proses belajar.
B. Rumusan
Masalah
Dalam penulisan makalah ini penulis akan meruskan beberapa masalah terkait dengan gaya belajar diantaranya :
1. apa definisi gaya pembelajaran ?
2. apasaja macam-macam gaya belajar yang dsering di gunakan ?
3. bagaimana peranan pendidik dalam pembelajaran ?
Dalam penulisan makalah ini penulis akan meruskan beberapa masalah terkait dengan gaya belajar diantaranya :
1. apa definisi gaya pembelajaran ?
2. apasaja macam-macam gaya belajar yang dsering di gunakan ?
3. bagaimana peranan pendidik dalam pembelajaran ?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Gaya Belajar
Gaya pembelajaran diartikan sebagai
prosedur sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai
tujuan belajar. Dapat juga diartikan suatu pendekatan yang digunakan dalam
kegiatan pembelajaran.
Jadi,
sebenarnya model pembelajaran memiliki arti yang sama dengan pendekatan,
strategi atau metode pembelajaran. Saat ini telah banyak dikembangkan berbagai
macam model pembelajaran, dari yang sederhana sampai model yang agak kompleks
dan rumit karena memerlukan banyak alat bantu dalam penerapannya.
Apabila
antara pendekatan, strategi, metode, teknik dan bahkan taktik pembelajaran
sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah apa yang
disebut dengan model pembelajaran. Jadi, model pembelajaran pada dasarnya
merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang
disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan
bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik
pembelajaran.
B.
Faktor Yang Mempengaruhi Gaya
Belajar
Hasil belajar yang dicapai oleh
siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu :
a. Faktor Internal
Slameto (2010:56) Faktor dari dalam
diri siswa yaitu kemampuan yang dimiliki oleh siswa tersebut. Faktor kemampuan
memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap hasil belaajr siswa. Selain faktor
kemampuan yang dimiliki siswa, terdapat juga faktor-faktor lain, seperti:
1) Perhatian
Perhatian adalah keaktifan yang
tertuju pada objek. Untuk mendapatkan hasil yang baik, maka diperlukan
perhatian siswa terhadap pelajaran. Jika siswa tidak tertarik terhadap
pelajaran, maka tumbuhlah rasa bosan sehingga siswa tidak memperhatikan
pelajaran. Agar siswa dapat memperhatikan pelajaran dengan baik, maka
diperlukan cara penyajian pelajaran yang baik sesuai hobi dan bakat siswa.
2) Minat
Minat adalah kecendrungan yang tetap
untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Minat memiliki pengaruh
yang besar terhadap hasil belajar, apabila pelajaran tersebut diminati oleh
siswa, maka siswa akan belajar dengan baik. Begitu juga sebaliknya apabila
pelajaran ini tidak diminati oleh siswa. Apabila hal ini terjadi maka
seharusnya pelajaran dihubungkan dengan hal sehari-hari yang menarik minat
siswa.
3) Bakat
Bakat adalah kemampuan dalam belajar
yang dapat dilihat setelah belajar dan berlatih. Setiap siswa memiliki bakat
yang berbeda-beda.
4) Motifasi
Motifasi merupakan pendorong atau
penggerak dalam mencapai suatu tujuan. Dalam proses belajar perlu diperhatikan
apa saja yang dapat mendorong siswa agar dapat belajar dengan baik atau
mempunyai motif untuk berpikir dan memusatkan perhatian, merencanakan dan
melaksanakan kegiatan yang dapat menunjang hasil belajar siswa.
5) Kematangan
Kematangan adalah suatu tingkat/fase
dalam pertumbuhan seseorang, di mana alat-alat tubuhnya sudah siap untuk
melaksanakan kecakapan baru. Belaajr akan lebih berhasil jika anak sudah siap.
Jadi kemajuan baru untuk memiliki kecakapan itu tergantung dari kematangan dan
belajar.
6) Kesiapan
Kesiapan adalah kesedian untuk untuk
memberi respons atau bereaksi. Kesedian itu timbul dari dalam diri seseorang
dan juga berhubungan dengan kematangan, karena kematanagn berarti kesiapan
untuk melaksanakan kecakapan. Kesiapan perlu diperhatikan dalam proses belajar,
karena jika siswa belajar dan sudah ada kesiapan, maka hasil belajarnya akan
lebih baik.
b. Faktor Eksternal
Faktor dari luar yang lebih dominan
mempengaruhi hasil belajar adalah metode mengajar, kurikulum, relasi guru
dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, pelajaran dan waktu
sekolah, standar pelajaran, keadaan gedung, metode belajar dan tugas rumah.
C. Klasifikasi Gaya Belajar
Sejak
awal tahun 1997, telah banyak upaya yang dilakukan untuk mengenali dan
mengkategorikan cara manusia belajar, cara memasukkan informasi ke dalam otak.
Secara garis besar, ada 7 pendekatan umum dikenal dengan kerangka referensi
yang berbeda dan dikembangkan juga oleh ahli yang berbeda dengan variansinya
masing-masing. Adi Gunawan adalah seorang pakar mind technology dan
transformasi diri yang dalam bukunya “Born to be a Genius” merangkum ketujuh
cara belajar tersebut, yaitu:
1) Pendekatan berdasarkan pada
pemprosesan informasi; menentukan cara yang berbeda dalam memandang dan
memproses informasi yang baru. Pendekatan ini dikembangkan oleh Kagan, Kolb,
Honey dan Umford Gregorc, Butler, dan McCharty.
2) Pendekatan berdasarkan kepribadian;
menentukan tipe karakter yang berbeda-beda. Pendekatan ini dikembangkan oleh
Myer-Briggs, Lawrence, Keirsey & Bartes, Simon & Byram, Singer-Loomis,
Grey-Whellright, Holland,dan Geering.
3) Pendekatan berdasarkan pada
modalitas sensori; menentukan tingkat ketergantungan terhadap indera tertentu.
Pendekatan ini dikembangkan oleh Bandler & Grinder, dan Messick.
4) Pendekatan berdasarkan pada
lingkungan; menentukan respon yang berbeda terhadap kondisi fisik, psikologis,
sosial, dan instruksional. Pendekatan ini dikembangkan oleh Witkin dan Eison
Canfield.
5) Pendekatan berdasarkan pada
interaksi sosial; menentukan cara yang berbeda dalam berhubungan dengan orang
lain. Pendekatan ini dikembangkan oleh Grasha-Reichman, Perry, Mann,
Furmann-Jacobs, dan Merill.
6) Pendekatan berdasarkan pada
kecerdasan; menentukan bakat yang berbeda. Pendekatan ini dikembangkan oleh
Gardner dan Handy.
7) Pendekatan berdasarkan wilayah otak;
menentukan dominasi relatif dari berbagai bagian otak, misalnya otak kiri dan
otak kanan. Pendekatan ini dikembangkan oleh Sperry, Bogen, Edwards, dan Herman
(Adi W. Gunawan:2004:140).
Banyaknya pendekatan dalam mengklasifikasikan atau membedakan
gaya belajar disebabkan karena setiap pendekatan yang digunakan mengakses aspek
yang berbeda secara kognitif. Dari berbagai pendekatan tersebut yang paling
terkenal dan sering digunakan saat ini ada 3, yaitu pendekatan berdasarkan
preferensi kognitif, profil kecerdasan, dan preferensi sensori.
Pendekatan gaya belajar berdasarkan
preferensi kognitif dikembangkan oleh Dr. Anthony Gregorc. Gregorc
mengklasifikasikan gaya belajar menurut kemampuan mental menjadi 4 kategori,
yaitu: gaya belajar konkret-sekuensial, gaya belajar abstrak-sekuensial, gaya
belajar konkret acak, dan gaya belajar abstrak acak.
Pendekatan gaya belajar berdasarkan
profil kecerdasan dikembangkan oleh Howard Gardner. Menurut Gardner, manusia
mempunyai 7 kecerdasan yaitu: linguistik, logika/matematika, interpersonal,
intrapersonal, musik, spasial, dan kinestetik. Teori kecerdasan ganda ini
mewakili definisi sifat manusia, dari perspektif kognitif, yaitu bagaimana kita
melihat, bagaimana kita menyadari hal.
Ini benar-benar memberikan indikasi
yang sangat penting dan tidak dapat dihindari untuk orang-orang preferensi gaya
belajar, serta perilaku mereka dan bekerja gaya, dan kekuatan alami mereka.
Jenis-jenis kecerdasan yang dimiliki seseorang (Gardner menunjukkan sebagian
besar dari kita kuat dalam tiga jenis) tidak hanya menunjukkan kemampuan orang,
tetapi juga cara atau metode di mana mereka lebih suka belajar dan
mengembangkan kekuatan mereka dan juga untuk mengembangkan kelemahan-kelemahan
mereka.
Penjelasan dan pemahaman Tujuh
Kecerdasan Gardner dapat lebih diterangi dan diilustrasikan dengan melihat
klasik kecerdasan lain dan model gaya belajar, dikenal sebagai model gaya
belajar Visual-Auditory-Kinestetik, biasanya disingkat VAK. Konsep, teori dan
metode pertama kali dikembangkan oleh psikolog dan spesialis mengajar seperti
Fernald, Keller, Orton, Gillingham, Stillman dan Montessori, dimulai pada tahun
1920-an. Para VAK pendekatan multi-indera (preferensi sensori) untuk belajar
dan mengajar ini awalnya berkaitan dengan pengajaran anak-anak menderita
disleksia dan pelajar lain untuk metode pengajaran konvensional yang tidak
efektif. Spesialis VAK awal diakui bahwa orang belajar dalam berbagai cara:
sebagai contoh yang sangat sederhana, seorang anak yang tidak bisa dengan mudah
mempelajari kata-kata dan huruf dengan membaca (visual) mungkin misalnya
belajar lebih mudah dengan menelusuri bentuk huruf dengan jari mereka
(kinestetik). Model gaya belajar Visual-Auditory-Kinestetik tidak menutup
kecerdasan ganda Gardner, melainkan dengan model VAK memberikan perspektif yang
berbeda untuk memahami dan menjelaskan pilihan seseorang atau dominan berpikir
dan gaya belajar, dan kekuatan. Teori Gardner adalah salah satu cara melihat
gaya berpikir; VAK adalah hal lain.
Dari tiga pendekatan tersebut yang
dikenal luas di Indonesia adalah pendekatan berdasarkan preferensi sensori (Adi
W. Gunawan:2004:142). Oleh karena ketenaran dan penggunaannya yang luas maka
penelitian ini hanya menitikberatkan pada pengklasifikasian gaya belajar
menurut pendekatan preferensi sensori, pendekatan multiple intelliggenses, dan
pendekatan berdasarkan wilayah otak. Pendekatan prefensi sensori yaitu meliputi
gaya belajar visual, gaya belajar auditorial, dan gaya belajar kinestetik.
1.
Gaya Belajar Visual (Visual learners)
Belajar
melalui melihat
sesuatu. Kita suka melihat gambar atau diagram. Kita suka pertunjukkan, peragaan
atau menyaksikan video. Gaya
belajar yang menitikberatkan
pada ketajaman penglihatan. Artinya, bukti-bukti konkret harus diperlihatkan
terlebih dahulu agar mereka paham Gaya belajar seperti ini mengandalkan
penglihatan atau melihat dulu buktinya untuk kemudian bisa mempercayainya.
Ada beberapa karakteristik yang
khas bagai orang-orang yang menyukai gaya belajar visual ini. Pertama
adalah kebutuhan melihat sesuatu (informasi/pelajaran) secara visual untuk
mengetahuinya atau memahaminya, kedua memiliki kepekaan yang
kuat terhadap warna, ketiga memiliki pemahaman yang cukup
terhadap masalah artistik, keempat memiliki kesulitan dalam berdialog secara langsung, kelima
terlalu reaktif terhadap suara, keenam sulit mengikuti anjuran
secara lisan, ketujuh seringkali salah menginterpretasikan kata
atau ucapan.
Individu yang memiliki kemampuan
belajar visual yang baik ditandai dengan ciri-ciri perilaku sebagai berikut:
a.
rapi
dan teratur,
b.
berbicara dengan cepat,
c.
mampu
membuat rencana dan mengatur jangka panjang dengan baik,
d.
teliti
dan rinci,
e.
mementingkan
penampilan,
f.
lebih
mudah mengingat apa yang dilihat daripada apa yang didengar,
g.
mengingat
sesuatu berdasarkan asosiasi visual,
h.
memiliki
kemampuan mengeja huruf dengan sangat baik,
i.
biasanya
tidak mudah terganggu oleh keributan atau suara berisik ketika sedang belajar,
j.
sulit
menerima instruksi verbal (oleh karena itu seringkali ia minta instruksi secara
tertulis),
k.
merupakan
pembaca yang cepat dan tekun,
l.
lebih suka membaca daripada dibacakan,
m.
dalam memberikan respon terhadap
segala sesuatu, ia selalu bersikap waspada, membutuhkan penjelasan menyeluruh
tentang tujuan dan berbagai hal lain yang berkaitan,
n.
jika
sedang berbicara di telpon ia suka membuat coretancoretan tanpa arti selama
berbicara,
o.
lupa menyampaikan pesan verbal kepada orang lain,
p.
sering
menjawab pertanyaan dengan jawaban singkat "ya" atau "tidak”,
q.
lebih
suka mendemonstrasikan sesuatu daripada berpidato/ berceramah,
r.
lebih
tertarik pada bidang seni (lukis, pahat, gambar) dari pada musik,
s.
sering
kali menegtahui apa yang harus dikatakan, tetapi tidak pandai menuliskan dalam
kata-kata,
t.
kadang-kadang
kehilangan konsentrasi ketika mereka ingin memperhatikan.
2.
Gaya Belajar Auditorial (Auditory
Learners)
Belajar melalui mendengar sesuatu. Kita suka
mendengarkan kaset audio, ceramah-kuliah, diskusi, debat dan instruksi
(perintah) verbal. Gaya belajar yang mengandalkan
pada pendengaran untuk bisa memahami dan mengingatnya. Karakteristik model belajar seperti ini benar-benar menempatkan pendengaran sebagai alat utama
menyerap informasi atau pengetahuan. Artinya, kita harus mendengar, baru
kemudian kita bisa mengingat dan memahami informasi itu. Karakter pertama orang yang memiliki gaya belajar ini
adalah semua informasi hanya bisa diserap melalui pendengaran, kedua memiliki kesulitan untuk menyerap informasi dalam bentuk
tulisan secara langsung, ketiga memiliki kesulitan menulis ataupun membaca.
Individu yang memiliki kemampuan
belajar auditorial yang baik ditandai dengan ciri-ciri perilaku sebagai
berikut:
a.
sering
berbicara sendiri ketika sedang bekerja (belajar),
b.
mudah
terganggu oleh keributan atau suara berisik,
c.
menggerakan
bibir dan mengucapkan tulisan di buku ketika membaca,
d.
lebih
senang mendengarkan (dibacakan) daripada membaca,
e.
jika membaca maka lebih senang membaca dengan suara keras,
f.
dapat
mengulangi atau menirukan nada, irama dan warna suara,
g.
mengalami
kesulitan untuk menuliskan sesuatu, tetapi sangat pandai dalam bercerita,
h.
berbicara dalam irama yang terpola dengan baik,
i.
berbicara
dengan sangat fasih,
j.
lebih menyukai seni musik dibandingkan seni yang lainnya,
k.
belajar
dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan daripada apa yang
dilihat,
l.
senang
berbicara, berdiskusi dan menjelaskan sesuatu secara panjang lebar,
m.
mengalami
kesulitan jika harus dihadapkan pada tugas-tugas yang berhubungan dengan
visualisasi,
n.
lebih
pandai mengeja atau mengucapkan kata-kata dengan keras daripada menuliskannya,
o.
lebih
suka humor atau gurauan lisan daripada membaca buku humor/komik
3.
Gaya Belajar Kinestetik (Tactual
Learners)
Belajar
melalui aktivitas fisik dan keterlibatan langsung. Kita suka ”menangani”,
bergerak, menyentuh dan merasakan/mengalami
sendiri. Gaya belajar yang
mengharuskan individu yang bersangkutan menyentuh sesuatu yang memberikan
informasi tertentu agar ia bisa mengingatnya. Tentu saja ada beberapa karakteristik model belajar seperti ini yang tak semua orang bisa melakukannya. Karakter pertama adalah menempatkan
tangan sebagai alat penerima informasi utama agar bisa terus mengingatnya.
Hanya dengan memegangnya saja, seseorang yang memiliki gaya ini bisa
menyerap informasi tanpa harus membaca penjelasannya.
Individu yang memiliki kemampuan
belajar kinestetik yang baik ditandai dengan ciri-ciri perilaku sebagai
berikut:
a.
berbicara
dengan perlahan,
b.
menanggapi
perhatian fisik,
c.
menyentuh
orang lain untuk mendapatkan perhatian mereka,
d.
berdiri
dekat ketika sedang berbicara dengan orang lain,
e.
banyak
gerak fisik,
f.
memiliki
perkembangan awal otot-otot yang besar,
g.
belajar
melalui praktek langsung atau manipulasi,
h.
menghafalkan
sesuatu dengan cara berjalan atau melihat langsung,
i.
menggunakan
jari untuk menunjuk kata yang dibaca ketika sedang membaca,
j.
banyak
menggunakan bahasa tubuh (non verbal),
k.
tidak
dapat duduk diam di suatu tempat untuk waktu yang lama,
l.
sulit
membaca peta kecuali ia memang pernah ke tempat tersebut,
m.
menggunakan
kata-kata yang mengandung aksi,
n.
pada
umumnya tulisannya jelek,
o.
menyukai
kegiatan atau permainan yang menyibukkan (secara fisik),
p.
ingin
melakukan segala sesuatu (DePorter, Bobbi & Hernacki, Mike:2000:110-112)
Setelah
berbicara pendekatan prefensi sensori selanjutnya yaitu pendekatan multiple
intellegenses. Menurut Gardner,
Intelegensi (kecerdasan) diartikan sebagai kemampuan untuk memecahkan persoalan dan menghasilkan produk dalam suatu setting
yang beragam dan dalam situasi yang nyata (1983, 1993). Gardner mendefinisikan
paling tidak ada tujuh kecerdasan berbeda yang semuanya bekerja sama dalam otak
secara terpadu meskipun masing- masing bisa diidentifikasi dan mampu mengalami
peningkatan, (Gardner 1999). Tujuh kecerdasan asli yang dijelaskan oleh Gerdner
adalah sebagai berikut :
a.Kecerdasan Linguistik
Kecerdasan linguistik adalah kecerdasan dalam mengolah kata. Ini merupakan
kecerdasan para jurnalis, juru cerita, penyair, dan pengacara. Orang yang
cerdas dalam bidang ini dapat beragumentasi, menyakinkan orang, menghibur, atau
mengajar dengan efektif lewat kata-kata
yang diucapkannya.
b.Kecerdasan
Logis-Matematis
Kecerdasan logis-matematis adalah kecerdasan dalam hal angka dan logika.
Ini merupakan kecerdasan para ilmuwan, akuntan, dan pemogram komputer.
Ciri-ciri orang yang cerdas secara logis-matematis mencakup kemampuan
penalaran, mengurutkan, berpikir dalam tentang sebab akibat, menciptakan
hipotesis, mencari keteraturan konseptual atau pola numerik, dan pandangan
hidupnya umumnya bersifat rasional.
c.
Kecerdasan Spasial
Kecerdasan spasial mencakup berpikir
dalam gambar, serta kemampuan untuk mencerap, mengubah, dan menciptakan kembali
berbagai macam aspek dunia visual-spasial. Kecerdasan ini merupakan kecerdasan
para arsitek, fotografer, artis, pilot, dan insinyur mesin. Orang dengan
tingkat kecerdasan spasial yang tinggi hamper selalu mempunyai kepekaan yang
tajam terhadap detail visual dan dapat menggambarkan sesuatu dengan begitu
hidup, melukis atau membuat sketsa ide secara jelas, serta dengan mudah
menyesuaikan orientasi dalam tiga dimensi.
d. Kecerdasan
Musikal
Ciri utama kecerdasan ini adalah
kemampuan untuk mencerap, menghargai, dan menciptakan irama dan melodi.
Kecerdasan musikal juga dimiliki orang yang peka nada, dapat menyanyikan lagu
dengan tepat, dapat mengikuti irama musik, dapat mendengarkan berbagai karya
musik dengan tingkat ketajaman tertentu.
e.
Kecerdasan Naturalis
Kecerdasan naturalis adalah
kemampuan dan kepekaan terhadap alam sekitar. Kemampuan yang tinggi untuk
membedakan berbagai jenis tumbuhan secara mendalam. Kemampuan untuk
menghubungkan materi pelajaran dengan fenomena alam. Seseorang yang
memiliki kecerdasan naturalis ini sangat menyukai binatang ataupun tanaman.
Pembicaraan dengannya akan makin menarik dan kreatif jika dimulai dengan
mengangkat tema tentang binatang dan alam. Bahkan membawa binatang atau tanaman
tertentu di dalam proses pembelajaran adalah hal yang disukainya. Kecerdasan
ini banyak dimiliki para oleh para pakar lingkungan. Seorang yang tinggal di
pedalaman mampu membedakan daun-dauan yang dapat dimakan, daun yang digunakan
sebagai tanaman obat atau tanaman yang mengandung racun.
f.
Kecerdasan Kinestetik-Jasmani
Adalah kecerdasan fisik, kecerdasan
ini mencakup bakat dalam mengendalikan gerak tubuh dan keterampilan dalam
menangani benda. Atlet, pengrajin, montir, dan ahli bedah mempunyai kecerdasan
kinestetik-jasmani tingkat tinggi. Orang dengan kecerdasan fisik
memiliki keterampilan dalm menjahit, bertukang, atau merakit model. Mereka juga
menikmati kegiatan fisik, seperti berjalan kaki, menari, berlari, berkemah,
berenang, atau berperahu. Mereka adalah orang-orang yang cekatan, indra
perabanya sangat peka, tidak bisa tinggal diam, dan berminat atas segala
sesuatu.
g. Kecerdasan
Antarpribadi
Ini adalah kemampuan untuk memahami
dan bekerja sama dengan orang lain. Kecerdasan ini terutama
menuntut untuk mencerap dan tanggap terhadap suasan hati, perangai, niat, dan
hasrat orang lain. Pada tingkat yang lebih tinggi, kecerdasan ini dapat membaca
konteks kehidupan orang lain, kecendrungannya dan kemungkinan keputusan yang
akan diambil. Profesional, guru, teraphis, politisi umunya memiliki
kecerdasan ini.
h. Kecerdasan Intrapribadi (Dalam diri
sendiri )
Orang yang kecerdasan intrapribadinya sangat baik dapat dengan mudah
mengakses perasaannya sendiri, membedakan berbagai macam keadaan emosi, dan
menggunakan pemahamannya sendiri untuk memperkaya dan membimbing
hidupnya. Contoh orang yang mempunyai
kecerdasan ini, yaitu konselor, ahli teologi, dan wirausahawan. Mereka sangat
mawas diri dan suka bermeditasi,
berkontemplasi, atau
bentuk lain penelusuran jiwa yang mendalam. Sebaliknya mereka sangat mandiri,
sangat terfokus pada tujuan, dan sangat disiplin. Secara garis besar, mereka
merupakan orang yang gemar belajar sendiri dan lebih suka bekerja sendiri dari
pada bekerja dengan orang lain.
i . Kecerdasan Eksistensialis
Kecerdasan eksistensialis adalah kecerdasan yang cenderung memandang masalah-masalah
dari sudut pandang yang lebih luas dan menyeluruh serta menanyakan ”untuk apa”
dan ”apa dasar” dari segala sesuatu. Kecerdasan ini banyak dijumpai pada para
filusuf. Mereka mampu menyadari dan menghayati dengan benar keberadaan dirinya
di dunia ini dan apa tujuan hidupnya.
Lalu, apa bukti teoritis keunggulan dari teori kecerdasan majemuk ini? Para
ahli pendidikan dan psikologi mengemukakan bahwa yang membuat teori Gardner
unggul adalah adanya dukungan riset dari berbagai bidang termasuk antropologi,
psikologi kognitif, psikologi perkembangan, psikometri, studi biografi,
fisiologi, hewan, dan neuroanatomi. Gardner menetapkan syarat khusus yang harus
dipenuhi oleh setiap kecerdasan agar dapat dimasukkan ke dalam teorinya.
Pendekatan
berdasarkan wilayah otak mengandung pengertian bahwa gaya belajar dipengaruhi
oleh fungsi dasar yang berbeda dari belahan otak kanan dan otak kiri tersebut.
Ber5ikut fungsi dasar otak kanan dan otak kiri :
Fungsi
Otak Kanan
Otak
kanan adalah otak yang berada disebelah kanan dalam posisi anatomis (frontal).
Fungsi otak kanan adalah sebagai berikut:
- Perkembangan emosi (emotional quotient (EQ))
- Hubungan antar manusia (sosialisasi)
- Fungsi Komunikasi (perkembangan bahasa non verbal)
- Perkembangan intuitif
- Seni (menari, melukis, menyanyi dan lain-lain)
- Mengandalikan ekspresi manusia
- Pusat khayalan dan kreativitas
- Berpikir lateral dan tidak terstruktur
- Tidak memikirkan hal-hal secara detail
- Cara kerjanya long term memory (memory jangka panjang)
- Lebih ahli dalam menentukan ruang/tempat dan warna
- Bila terjadi kerusakan pada area otak kanan yang terganggu adalah area kemampuan visual dan emosi
Fungsi
Otak Kiri
Otak
kiri adalah otak yang berada disebelah kiri dalam posisi anatomis (posisi
frontal). Fungsi otak kiri adalah sebagai berikut:
- Perkembangan Intelegensi (intelligence quotient (IQ))
- Pusat perkembangan logika dan rasio (seperti matematika)
- Berpikir sacara sistematis
- Bahasa verbal
- Berpikir linear dan terstruktur
- Berpikir analisis dan bertahap
- Cara berpikirnya short term memory (memory jangka pendek)
- Jika terjadi gangguan pada otak kiri, maka yang terganggu adalah fungsi berbicara, bahasa dan matematika
Walaupun demikian, mereka yang mampu
mengintegrasikan penggunaan kedua belah otak jelas dalam keadaan yang lebih
baik karena mereka mampu memanfaatkan fleksibilitas untuk menyesuaikan diri
dalam situasi apapun yang memerlukan kemampuan berfikir.
DAFTAR PUSTAKA
De Porter, Bobbi. 2003. Quantum Earleaning Membiasakan Belajar
Nyaman dan Menyenangkan. Bandung. Kaifa.
Dimyati dan Moedjiono. 2002. Belajar
dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Maulida,
Dina. 2008. Pengaruh Gaya Belajar (Visual, Auditorial,& Kinestetik)Terhadap
Prestasi Belajar Siswa Kelas I Penjualan SMK Muhammadiyah 2 Malang Pada Mata
Pelajaran Kewirausahaan Tahun Ajaran 2007/2008.
Siddiq, M. D., Munawaroh, I. dan Sungkono.
2008. Pengembangan Bahan Pembelajaran SD. Jakarta: Direktorat Jendral
Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional
Sudjana,
D. Strategi Pembelajaran. Falah Production : Bandung,2000
Udin
S. Winataputra. 2003.
Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Pusat Penerbitan
Universitas
Terbuka.


0 komentar:
Posting Komentar